Tentang sahabat seorang petani
Siapapun orangnya pasti akan sepakat kalau diantara sekian ciri-ciri fisik yang paling mudah untuk mengenali dirinya adalah,—tanpa mengurangi rasa hormat saya kepadanya—bahwa ia bertubuh pendek dan rambutnya keriting. Tetapi apalah arti fisik baginya. Fisik baru akan penting kalau pilek menyumbat hidungnya atau nyeri menyerang encoknya sehingga ia tak bisa menerima order pekerjaan dari para pemilik ladang. Mungkin, ia baru benar-benar memahami arti tubuh ketika kedua tangan dan kakinya tak bisa digerakkan.
Entah kapan tepatnya, yang jelas bapaklah yang mengenalkan kami sekeluarga padanya, walau tak secara formal seperti ketika perusahaan menerima karyawan baru dalam timnya. Ketika itu kami butuh tenaga tambahan untuk ladang sewaan kami yang segera akan digarap. Dan tanpa melewati seleksi administrasi dan wawancara rumit Kang Tauhid menyetorkan keahliannya.
Bagi bapak tentulah kang tauhid menjadi sesuatu yang sangat berarti. Sebagaimana penilaian beliau yang kerap disampaikan kepada kami, dari sekian tenaga yang pernah disewa, Kang Tauhidlah yang seolah tak menyimpan cela. Maka demikianlah, ketika orang berkoar tentang profesionalisme di mimbar seminar atau pelatihan-pelatihan yang mengeluarkan anggaran puluhan juta, Kang Tauhid telah mempraktekkan itu, ia cangkul dan tata gundukan tanah menjadi gulutan-gulutan nan gembur sehingga memudahkan akar-akar tanaman menghujam kebawah. Ia tetap bekerja kendati tak seorangpun mengawasinya. Ia barangkali tak terlalu sering membaca buku, seperti mana kita tiap kali ingin menyadap ilmu, namun dari kesederhanaan pikirannya, ia tahu benar bahwa harga sebuah kepercayaan mestilah ditempuh dengan sungguh-sungguh, bahkan tetesan peluh dan keringat, bahkan mengorbankan keselamatan sendiri.
Sementara bagi saya, iapun pernah mengguratkan kesan yang tak kalah penting. Beberapa bulan ia menjadi teman ngobrol, saat saya sedang kehabisan gairah anak cita-cita. Saya trenyuh ketika tahu bahwa jatah ransum yang selalu kami kirim buatnya selalu ia bawa pulang. Belakangan kami dengar jika ransum itu ia diberikan pada adiknya yang hilang ingatan sejak masih amat belia. Seringkali kenyataan disekitar kita amat nyata menggambarkan ironi yang membikin kita mengurut dada; ketika banyak orang sanggup membeli BBM untuk mengisi tangki mobilnya, Kang Tauhid, harus berjuang menjual tenaganya dari pagi sampai sore untuk menjaga agar hidup keluarganya terus berlanjut. Darinyalah diam-diam saya menyadap semangat dan filosofi hidup yang terlampau biasa, bahwa hidup ini seringkali harus kita lewati dengan perih kegetiran demi terpeliharanya harga diri, demi tercapainya sebuah keinginan, sesederhana apapun keinginan itu.
Pada lebaran tahun ini saya tak bertemu dengannya. Jujur saja saya sudah mulai dilupakan oleh agenda-agenda tulisan yang datang menjubeli imajinasi saya, bahkan telah melenakan saya pada kenangan yang baru saja berjalan beberapa tahun silam. Termasuk nasib Kang Tauhid ini. Demikianlah mimpi dan keinginan kerap melupakan manusia kendati kelupaan itu barangkali bukan disebabkan ikhwal serius. Tetapi melupakan seorang sahabat niscaya bukanlah perbuatan terpuji yang diharapkan-Nya.
Malam ini, tiba-tiba saya teringat padanya. Tentang, kerja kerasnya, tentang orang-orang tak berdaya yang menunggunya selalu dengan penuh harap dirumah. Tentang senyumnya yang kerap justru membuat saya serta-merta menitikkan air mata. Dan malam ini ketika saya amat percaya jika Dia mendengar doa setiap hamba yang bermohon demi kebaikan sesama, untuk Kang Tauhid saya ingin berdoa. Semoga kesabaran dan keberkahan selalu memayungi hidupnya. Karena tanpa itu, tak ada gunanya hidup
Sabtu, 06 Desember 2008
Langganan:
Postingan (Atom)