Sabtu, 06 Desember 2008

renungan

Tentang sahabat seorang petani

Siapapun orangnya pasti akan sepakat kalau diantara sekian ciri-ciri fisik yang paling mudah untuk mengenali dirinya adalah,—tanpa mengurangi rasa hormat saya kepadanya—bahwa ia bertubuh pendek dan rambutnya keriting. Tetapi apalah arti fisik baginya. Fisik baru akan penting kalau pilek menyumbat hidungnya atau nyeri menyerang encoknya sehingga ia tak bisa menerima order pekerjaan dari para pemilik ladang. Mungkin, ia baru benar-benar memahami arti tubuh ketika kedua tangan dan kakinya tak bisa digerakkan.

Entah kapan tepatnya, yang jelas bapaklah yang mengenalkan kami sekeluarga padanya, walau tak secara formal seperti ketika perusahaan menerima karyawan baru dalam timnya. Ketika itu kami butuh tenaga tambahan untuk ladang sewaan kami yang segera akan digarap. Dan tanpa melewati seleksi administrasi dan wawancara rumit Kang Tauhid menyetorkan keahliannya.
Bagi bapak tentulah kang tauhid menjadi sesuatu yang sangat berarti. Sebagaimana penilaian beliau yang kerap disampaikan kepada kami, dari sekian tenaga yang pernah disewa, Kang Tauhidlah yang seolah tak menyimpan cela. Maka demikianlah, ketika orang berkoar tentang profesionalisme di mimbar seminar atau pelatihan-pelatihan yang mengeluarkan anggaran puluhan juta, Kang Tauhid telah mempraktekkan itu, ia cangkul dan tata gundukan tanah menjadi gulutan-gulutan nan gembur sehingga memudahkan akar-akar tanaman menghujam kebawah. Ia tetap bekerja kendati tak seorangpun mengawasinya. Ia barangkali tak terlalu sering membaca buku, seperti mana kita tiap kali ingin menyadap ilmu, namun dari kesederhanaan pikirannya, ia tahu benar bahwa harga sebuah kepercayaan mestilah ditempuh dengan sungguh-sungguh, bahkan tetesan peluh dan keringat, bahkan mengorbankan keselamatan sendiri.

Sementara bagi saya, iapun pernah mengguratkan kesan yang tak kalah penting. Beberapa bulan ia menjadi teman ngobrol, saat saya sedang kehabisan gairah anak cita-cita. Saya trenyuh ketika tahu bahwa jatah ransum yang selalu kami kirim buatnya selalu ia bawa pulang. Belakangan kami dengar jika ransum itu ia diberikan pada adiknya yang hilang ingatan sejak masih amat belia. Seringkali kenyataan disekitar kita amat nyata menggambarkan ironi yang membikin kita mengurut dada; ketika banyak orang sanggup membeli BBM untuk mengisi tangki mobilnya, Kang Tauhid, harus berjuang menjual tenaganya dari pagi sampai sore untuk menjaga agar hidup keluarganya terus berlanjut. Darinyalah diam-diam saya menyadap semangat dan filosofi hidup yang terlampau biasa, bahwa hidup ini seringkali harus kita lewati dengan perih kegetiran demi terpeliharanya harga diri, demi tercapainya sebuah keinginan, sesederhana apapun keinginan itu.

Pada lebaran tahun ini saya tak bertemu dengannya. Jujur saja saya sudah mulai dilupakan oleh agenda-agenda tulisan yang datang menjubeli imajinasi saya, bahkan telah melenakan saya pada kenangan yang baru saja berjalan beberapa tahun silam. Termasuk nasib Kang Tauhid ini. Demikianlah mimpi dan keinginan kerap melupakan manusia kendati kelupaan itu barangkali bukan disebabkan ikhwal serius. Tetapi melupakan seorang sahabat niscaya bukanlah perbuatan terpuji yang diharapkan-Nya.

Malam ini, tiba-tiba saya teringat padanya. Tentang, kerja kerasnya, tentang orang-orang tak berdaya yang menunggunya selalu dengan penuh harap dirumah. Tentang senyumnya yang kerap justru membuat saya serta-merta menitikkan air mata. Dan malam ini ketika saya amat percaya jika Dia mendengar doa setiap hamba yang bermohon demi kebaikan sesama, untuk Kang Tauhid saya ingin berdoa. Semoga kesabaran dan keberkahan selalu memayungi hidupnya. Karena tanpa itu, tak ada gunanya hidup

kepada

j

Selasa, 25 November 2008

TEMBANG ILALANG, BABAK BARU PERGESEKAN IDIOLOGI



Ahmad Khoirul Fata
(Sarjana filsafat IAIN Sunan Ampel)

Ketika hendak memilih novel, terutama yang mengangkat isu sejarah, ada dua syarat yang selalu saya pegang. Pertama, kredibilitas penulisnya, sebab inilah yang menjadi jaminan berkualitas tidaknya sebuah novel sejarah. Kedua, tema pokok yang diangkat. Dengan dua prasyarat ini, terus terang saja saya tidak terlalu tertarik saat pertama kali melihat novel ini.

MD Aminudin. Sebuah nama yang begitu asing dalam jagad per-novel-an nusantara, terutama sastra sejarah. Dan saat membaca judul novel ini otak saya langsung terbayang sebuah kisah klise tentang cinta seperti umumnya novel-novel percintaan yang belakangan membeludak. Yang membuat saya penasaran justru endorsement yang ditulis Taufiq Ismail di cover depan novel ini. Maka, dengan sedikit mengesampingkan popularitas penulisnya, saya baca juga isi novel ini. Saya pikir pasti ada sesuatu yang menarik dalam novel ini sehingga Taufiq Ismail mau memberi komentar.

"Tidak ringan menggarap novel dengan latar belakang sejarah. Pembaca diingatkan pada bagian-bagian getir sejarah bangsa. Dan itu perlu."
Sedemikian singkat catatan yang diberikan Taufiq untuk novel ini, namun terasa nyaring di telinga siapapun, paling tidak bagi telinga saya sendiri. Taufiq Ismail seolah hendak bersuara kepada pembaca novel tersebut bahwa kita tidak boleh lupa jika bangsa ini dibangun dari puing-puing kegetiran masa lalu, terutama yang lahir akibat totalitarianisme kaum merah. Kegetiran itu begitu dalam terukir dalam "Prahara Budaya" yang ditulis Taufiq bersama DS Moeljanto.
Tentu saja ini bukan novel pertama yang di-endorse oleh Taufiq Ismail. Namun saya kira novel ini cukup istimewa bagi Taufiq mengingat tema yang diangkat sesuai dengan kampanye anti komunis yang disuarakannya selama ini. Dalam novel yang menggambarkan perlawanan seorang mantan aktivis komunis internasional terhadap bekas gerakannya itu, Aminudin hendak mengungkap sejarah kelam bangsa ini akibat ulah gerakan palu arit itu.

Siapapun tahu Taufiq Ismail adalah salah satu tokoh—bersama Goenawan Moehammad—penandatangan Manifes Kebudayaan yang menentang totalitarianisme Lekra-PKI di tahun 60-an yang diwakili oleh Pramoedya Ananta Toer. Taufiq Ismail kemudian menjadi sastrawan lokomotif yang menarik gerbong ideologinya melawan Pramoedya Ananta Toer dan kawan-kawan. Selama Orde Lama Pram dengan Lekranya telah memberangus karya-karya kelompok Manifes Kebudayaan hingga berujung pada pemenjaraan beberapa tokohnya. Sebaliknya ketika Orde Baru, Taufiq Ismail tidak mau bertegur sapa dengan Pram hingga ajal menjemput pengarang kelahiran Blora itu.

Luka itu memang telah lewat puluhan tahun silam, namun tidak semudah itu menghapus luka yang kadung ‘bernanah’ itu. Meski dalam "Katastrofi Mendunia" Taufiq Ismail pernah mendeklarasikan niat "berdamai dengan masa lalu," namun hingga Pram meninggal perdamaian itu tidak pernah terwujud. Bahkan Taufiq pernah menggugat Magsaysay Award yang diterima Pram.
Di sini Aminudin seolah-olah memposisikan dirinya sebagai "Taufiq Ismail Baru" yang lahir untuk menandingi Ayu Utami, Eka Kurniawan, dan Ratih Kumala yang saya anggap sebagai anak ideologisnya Pram.

Dalam novel Saman-nya, Ayu Utami dengan setengah telanjang menyampaikan kepada pembaca bahwa orang-orang komunis pasca prahara 1965 hanyalah korban semata dari kesalahan rezim dan kebobrokan tentara. Bahwa membunuh atau dibunuh pada saat itu cuma dipisahkan oleh tirai tipis bernama kesalahpahaman. Pembelaan Ayu Utami terhadap kaum merah baru kentara dalam novel keduanya, Larung. Bisa dikata, Ayu Utami merupakan lokomotif generasi "sastrawan merah" pasca Pram, yang kemudian diikuti banyak penulis di belakangnya, seperti Eka Kurniawan dan Ratih Kumala.

Tembang Ilalang jelas bukan sekedar novel sejarah, tetapi juga novel ideologis. Munculnya novel ini menjadi kisah lanjutan pertarungan ideologis antara kaum merah dengan kaum Islam di negeri ini. Meski terkesan mundur ke belakang, pertarungan model ini tentu saja jauh lebih baik daripada demo jalanan atau kontak fisik.
Inilah babakan baru perkelahian ideologis antara "Neo-Taufiq Ismail" melawan "Neo-Pram." (*)

Kamis, 20 November 2008

Sajak Tembang ilalang

Impian telah melemparkan saya pada tidur yang tak lagi lelap
Telah lama saya tinggalkan masa kanak di tanah kelahiran
yang kerap saya rindukan rinai hujan jatuh di atap rumah kami
dimana pada halamannya dulu bapak mengajarkanku
menghafal fatihah dengan permohonan yang parau
lalu setelahnya, bunda akan bercerita tentang bidadari dari negeri nun
yang membuat saya ingin memiliki sayap kemudian terbang kepadanya

Impian kadang membuat saya merasa bersalah menapakkan kaki
Saya ingat lagin nyanyian masa belia
Yang didendangkan bocah-bocah gembala di tengah pematang
Jauh sebelum saya mengenal warna-warni dunia
Jauh sebelum akhirnya kaki ini menapak jua
di padang yang tak pernah terjamah impian manusia

Impian telah mempertemukan saya denganmu kembali