Ahmad Khoirul Fata
(Sarjana filsafat IAIN Sunan Ampel)
Ketika hendak memilih novel, terutama yang mengangkat isu sejarah, ada dua syarat yang selalu saya pegang. Pertama, kredibilitas penulisnya, sebab inilah yang menjadi jaminan berkualitas tidaknya sebuah novel sejarah. Kedua, tema pokok yang diangkat. Dengan dua prasyarat ini, terus terang saja saya tidak terlalu tertarik saat pertama kali melihat novel ini.
MD Aminudin. Sebuah nama yang begitu asing dalam jagad per-novel-an nusantara, terutama sastra sejarah. Dan saat membaca judul novel ini otak saya langsung terbayang sebuah kisah klise tentang cinta seperti umumnya novel-novel percintaan yang belakangan membeludak. Yang membuat saya penasaran justru endorsement yang ditulis Taufiq Ismail di cover depan novel ini. Maka, dengan sedikit mengesampingkan popularitas penulisnya, saya baca juga isi novel ini. Saya pikir pasti ada sesuatu yang menarik dalam novel ini sehingga Taufiq Ismail mau memberi komentar.
"Tidak ringan menggarap novel dengan latar belakang sejarah. Pembaca diingatkan pada bagian-bagian getir sejarah bangsa. Dan itu perlu."
Sedemikian singkat catatan yang diberikan Taufiq untuk novel ini, namun terasa nyaring di telinga siapapun, paling tidak bagi telinga saya sendiri. Taufiq Ismail seolah hendak bersuara kepada pembaca novel tersebut bahwa kita tidak boleh lupa jika bangsa ini dibangun dari puing-puing kegetiran masa lalu, terutama yang lahir akibat totalitarianisme kaum merah. Kegetiran itu begitu dalam terukir dalam "Prahara Budaya" yang ditulis Taufiq bersama DS Moeljanto.
Tentu saja ini bukan novel pertama yang di-endorse oleh Taufiq Ismail. Namun saya kira novel ini cukup istimewa bagi Taufiq mengingat tema yang diangkat sesuai dengan kampanye anti komunis yang disuarakannya selama ini. Dalam novel yang menggambarkan perlawanan seorang mantan aktivis komunis internasional terhadap bekas gerakannya itu, Aminudin hendak mengungkap sejarah kelam bangsa ini akibat ulah gerakan palu arit itu.
Siapapun tahu Taufiq Ismail adalah salah satu tokoh—bersama Goenawan Moehammad—penandatangan Manifes Kebudayaan yang menentang totalitarianisme Lekra-PKI di tahun 60-an yang diwakili oleh Pramoedya Ananta Toer. Taufiq Ismail kemudian menjadi sastrawan lokomotif yang menarik gerbong ideologinya melawan Pramoedya Ananta Toer dan kawan-kawan. Selama Orde Lama Pram dengan Lekranya telah memberangus karya-karya kelompok Manifes Kebudayaan hingga berujung pada pemenjaraan beberapa tokohnya. Sebaliknya ketika Orde Baru, Taufiq Ismail tidak mau bertegur sapa dengan Pram hingga ajal menjemput pengarang kelahiran Blora itu.
Luka itu memang telah lewat puluhan tahun silam, namun tidak semudah itu menghapus luka yang kadung ‘bernanah’ itu. Meski dalam "Katastrofi Mendunia" Taufiq Ismail pernah mendeklarasikan niat "berdamai dengan masa lalu," namun hingga Pram meninggal perdamaian itu tidak pernah terwujud. Bahkan Taufiq pernah menggugat Magsaysay Award yang diterima Pram.
Di sini Aminudin seolah-olah memposisikan dirinya sebagai "Taufiq Ismail Baru" yang lahir untuk menandingi Ayu Utami, Eka Kurniawan, dan Ratih Kumala yang saya anggap sebagai anak ideologisnya Pram.
Dalam novel Saman-nya, Ayu Utami dengan setengah telanjang menyampaikan kepada pembaca bahwa orang-orang komunis pasca prahara 1965 hanyalah korban semata dari kesalahan rezim dan kebobrokan tentara. Bahwa membunuh atau dibunuh pada saat itu cuma dipisahkan oleh tirai tipis bernama kesalahpahaman. Pembelaan Ayu Utami terhadap kaum merah baru kentara dalam novel keduanya, Larung. Bisa dikata, Ayu Utami merupakan lokomotif generasi "sastrawan merah" pasca Pram, yang kemudian diikuti banyak penulis di belakangnya, seperti Eka Kurniawan dan Ratih Kumala.
Tembang Ilalang jelas bukan sekedar novel sejarah, tetapi juga novel ideologis. Munculnya novel ini menjadi kisah lanjutan pertarungan ideologis antara kaum merah dengan kaum Islam di negeri ini. Meski terkesan mundur ke belakang, pertarungan model ini tentu saja jauh lebih baik daripada demo jalanan atau kontak fisik.
Inilah babakan baru perkelahian ideologis antara "Neo-Taufiq Ismail" melawan "Neo-Pram." (*)